You are currently browsing the category archive for the ‘~~Renungan’ category.

Isu gempa
Hari ini Jakarta diancam gempa 8.7 SR…
Actually, I’m not worried about myself…I’m worried about Lampung,where my parents live there…
I’m worried about Mba Ririn
I’m worried about them
I’m worried about him
Yup,ga mau hal dulu hadir…

    A smile is the light in your window that tells others that there is a caring, sharing person inside. ~ Denis Waitley

| makeupyourday |
♥ nd ♥

2012…


such a great film that is filled of special effects…
so WOW!
Earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions,,The Director (Roland Emmerich) has been succesful described all of the earth destruction in this film,,,everything is well described!

But, from this film,
it seems that The End of the world will be happened in 2012,, and it means that we all have three years to live.
WUOHOOO!!!I haven’t married!waitwaitwait!
Hªªhªª …

OOPS,
NO NO NO!don’t judge a book by it’s cover,darls… Remember, Al A’raf : 187

أِنَّماَ عِلْمُهاَ عِنْدَ رَبِّى…لاَيُخَلِّيهَآ لِوَقْتِهَآ أِلاَّهُوَ

The knowledge thereof is with my Lord (Alone). None can reveal its time but He

No one can predict when The End of The World will happen,,, 🙂

suatu saat, ndin dan temen berbincang2…

ndin_ndun: gimana SPN-nya [Sekolah Pra Nikah]
X : bikin merinding, ndin
ndin_ndun : loh?! merinding?! knapa gituu…?!bukannya pertemuan sebelumnya malah memotivasi untuk segera menikah ya?
X : tadi nyeritain tentang proses taaruf, tukar menukar biodata,,tapi ada satu kalimat yang bikin saya merinding..
ndin_ndun : kalimat apa…?
X : Dari surat An Nuur:26

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ….”

madlebug,,,,
zieuww….
terdiam sejenak,,,
memikirkan berulang-ulang kali ayat tadi…
dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)

X : orang mana siy, ndin, yang gak pingin punya pasangan yang baik2?! pasti semua manusia pingin punya pasangan hidup yang baik…
ndin_ndun : [masih terdiam] iyaaa….. [berpikir]
X : tapi sebenernya permasalahan utama adalah pada diri kita….pertanyaannya sudahkah kita menjadi seorang yang baik dihadapanNYA dan dikalangan manusia lain?
ndin_ndun : [masih tertunduk diam] iyaaa….benar! wanita sholeha untuk pria yang sholeh,,,pria yang sholeh pun juga untuk mereka [para wanita] yang soleha…

gleug,,,,
ini sebuah renungan

Ya ALLAH Gusti nu Agung,,,
pria yang sholeh untuk wanita yang soleha…
sudah se’baik’ apakah hambamu ini?!

__berkaca terlebih dahulu sebelum menginginkan yg terbaik__

PUISI CINTA UNTUK ADIK
By: Karina A. P.
7 Oktober 2002

Hai adik kecilku…
ribuan nafas tlah kau dengungkan dari rahim ibu…
Apa yang kau rasa?
Hidup, lalu…
arungi lautan serasa damai?

Lembar biduk perahumu pun
tlah kau tuju ke sana
Pilihmukah?
menyesalkah?
Atau rasa bahagia?

Terkadang petir guncang perahumu
Apa yang kau lakukan?
Sekedar menangis?
Cengeng meronta cari ayah-ibu?
Lalu berlindung di ketiak ibu?
Nor…

Kadang angin siklon terpa jalanmu…
Apa usahamu?
Berdiri di baris terbelakang,
biarkan serdadumu mati hanya bela kamu?
Atau sekedar menunggu,
terombang ambing
lalu tunggu sekoci datang?

Lalu saat kau tak temukan pulau tuk mendarat
pupuskah harapan?
Atau tunggu si awak ahli matematikamu hitung astronomis perahu?
Dan biarkan si ahli geografis berbicara?

Kelak ketika kau sampai tujuan
daratan hijau,
tanah beralaskan emas kau dapat
Akankah kau kembali?
mengenang dongeng ayah ibu yang lama menunggu?
Bermain bola bekel bersama kakakmu?
Atau menengok pekuburan yang terlupa?

jujur,,
saat mbk Ririn menulis puisi ini
dan langsung memberikannya pada ndun,,
hati ndun berdegup kencang,,,

so sweet,,,
skaligus termotivasi,,,

memang dulu ndun seorang anak yang manja,,,
dan sejak tulisan ini dibikin,,,
ndun sadar,,,
ndun harus menjadi seorang yang mandiri dan kuat
wanita yang tegar dalam mengambil keputusan,,,
ya,,
seperti seorang wanita yang ditulis dalam blog ndun sebelumnya:aku wanita..

benar-benar puisi dari kasih sayang seorang kakak,,,
dan ndun kaget!
ternyata mbkku itu jago mengolah kata,,,

ya..
dia adalah kakakku,,,
^__^

ya….aku lagi tidur saat itu di tempat tidur di suatu ruangan yang sempit mirip gudang [setidaknya berukuran dua kali tiga meter persegi]

tidur dan tidur…..

Tempat tidur itu kecil

dan di sebelahnya terdapat meja besar yang di atasnya banyak kerdus-kerdus berisi buku-buku pelajaran

Kira-kira ada 4 kerdus di atas meja tersebut

dan di samping meja tersebut banyak sekali kotak-kotak besar [serupa kerdus] dari kayu

”Dik!!!!”

[suara ibu memanggilku]

[suara yang ketakutan,,,,suara yang penuh dengan kecemasan,,,,suara yang terengah-engah sehabis berlarian]

aku ga sadar…

aku hanya ingin menikmati tidurku saat itu

tidur dan tidur!

tapi entah kenapa….

saat itu aku tergerak untuk membuka mataku sedikit saja

…………..

dan ya!

aku merasa penting untuk membuka mataku……..

air sudah hampir menggenangi tempat tidurku

”banjir?”

”ga mungkin!!!masa’ daerah seperti ini bisa banjir?”

aku tetep ga sadar….

”dasar tukang mimpi!!!!”

dan aku merebahkan tubuhku lagi! [dudul banget de gue saat itu!!!bodoh!bodoh!]

mmm….

“gawat!”

aku membuka mataku lagi….

dan keadaan masih sama seperti yang aku lihat tadi

”ga mimpi ni!”

”Dik!!!!!”

[suara ibu makin ketakutan….]

[jujur saat itu aku ingin menangis,,,,,aku gak pernah ngedenger ibu bersuara parau seperti itu seolah-olah segala macam perasaan sedih, takut, kacau menyelimuti dirinya]

[”ibu…kenapa?”]

Ibu dan bapak datang…..bajunya basah….[kena air]

ibu merangkulku…dipeluknya aku dengan erat….

beliau menangis…..

menangis

dan menangis sedih

”ibuku…….”

bapak menundukkan kepala

dan merangkul erat aku dan ibu…

”kenapa, Pak?”

”Kita ga mungkin bisa keluar dari sini….” bapak masih merangkulku dengan sambil mencoba berucap sedikit demi sedikit

”Semuanya di luar sudah hanyut!”

”Kita bisa diam saja di sini,,,,,pasrah” kata Bapak

”Bagaimanapun situasi kita saat ini, alhamdulilah mbak ririn [itu nama kakakku] ga berada di sini, alhamdulilah mabak ririn masih di Bandung…..” ibu gemetar

”Kita hanya bertiga……kita pasrahkan semuanya ke Allah ya, dik” rangkulan ibu makin kuat….tapi aku sadar, yang jelas saat itu ibu menangis terisak-isak dan bapak pun [baru kali ini] menunjukkan tangisannya saat itu

i had just realized!

air makin lama makin tinggi dan makin menggenangi ruangan itu.

aku lagi ga bermimpi! ini saatnya tsunami datang…

dan aku, ibu, dan bapak sudah ga bisa berbuat apa-apa

”Tsunami, bu?”tanyaku memastikan

Ibu dan bapak mengangguk.

air makin tinggi, bahkan tempat tidurku sudah tertutup oleh air.

kertas-kertas hanyut

semuanya hanyut

meja tulis pun hampir tidak nampak

”ayo! kita ga mungkin pasrah begitu saja!” bapak mencoba menghibur

“Kita bisa naik meja dan diam di atas kerdus-kerdus itu! Setidaknya kita berusaha!”

aku tahu itu impossible…..

tapi ’setidaknya kita berusaha!’

kita bertiga menyusun semua barang-barang sehingga kita bertiga bisa berada di atas barang-barang tersebut

aku naik terlebih dahulu

kemudian ibu

dan terakhir bapak

aku tahu air makin tinggi….

dan kita hanya bertumpu pada kotak-kotak besar dari kayu [ setidaknya ada 4 kotak] dan 4 kerdus dari karton biasa yang berisi buku-buku.

kami bertiga saling memegang tangan masing-masing

”Coba telpon mbak ririn…..” suruh bapak kepadaku [saat itu aku memang lagi pegang handphone]

aku menekan tombol handphone, menghubungi mbak ririn…..

tapi gak bisa…..

[Maaf nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area, silahkan menghubungi nanti]

”Sudahlah, ga usah kalo gak bisa, jangan biarkan mbak ririn deg-degan di Bandung sana….biar kita bertiga saja yang menghadapi semua ini….!” ibu berucap…..

”Bu,,,,maafin dik ya…..ini mungkin akhir keluarga kita…..nyuwun duko dik selama ini banyak buat kesalahan sama ibu bapak”

”Sama-sama ya dik, bu!” kata bapak

”Bu, pak,,,,,alhamdulillah ya mbak ririn ga pulang kampung bareng dik kemarin! kalo mbak pulang, mungkin mbk juga bakal ada bareng kita disini, alhamdulillah mbak ririn selamat di Bandung”

Ibu makin menitikkan air mata, bapak hanya menundukkan kepala

”Ibu dan bapak kangen ya sama mbak ririn?” tanyaku

”Mbak ririn di Bandung baek-baek aja ko bu, pak!”aku coba menghibur kedua orangtuaku

[tapi aku ga akan bisa ketemu mbak ririn lagi! meskipun kadang aku bertengkar dengan mbak ririn, aku sadar mulai saat ini aku akan sangat kehilangan dia….aku ga akan ketemu dia lagi!!!]

Air sudah sampai pada kotak kayu besar yang ketiga. Dari ruang itu terdengar suara tangis manusia-manusia di luar sana. Banyak terdengar suara-suara yang melantunkan nada istighfar…..Dan terdengar keras pula suara tsunami yang terus terusan menghantam rumah kami saat itu.

Aku sadar jika air sudah sampai pada kotak kayu besar yang keempat, dan air masih terus menerus naik, maka tamatlah riwayat kami bertiga…..karena tentu saja keempat kerdus tidak akan mamapu melawan air tsunami yang berwarna kecoklatan itu…..dan nantinya kami akan menikmati rasanya tenggelam dalam air……

pemikiranku tadi ternyata menjadi kenyataan…tsunami gak mau kalah, dia ingin melahap semuanya……melahap kami bertiga!!!

“Baca istighfar yang banyak ya, dik!” suruh ibu. Kami bertiga masih berpegangan tangan masing-masing. Kali ini makin erat dan makin erat.

”Mbak ririn……”

”Eyang Uti…..”
”Eyang Iyut….”
”Om Didit….”

”Bude Etin….”

”pakde Kasdi….”

”Mas Arif…..”

”Mbak Ika….”

aku coba mengabsen satu persatu keluargaku dalam hati…..

Keempat kerdus sudah terlahap tsunami. Kini tinggal kepala kami yang masih muncul…Kami bertiga berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya. kami bertiga mencoba bertahan…..

Ibu sudah hampir kelelep……ibu susah untuk bernapas…….

”Bu, dik andin sayang ibu!!!! Bertahanlah, bu!!!”

ibu gak akan mungkin bertahan….

tapi harus bertahan, bu…..

bapak mulai kecapaian untuk bertahan…..kita bertiga mulai kelelep

”Mbak ririn……”

”Eyang Uti…..”
”Eyang Iyut….”
”Om Didit….”

”Bude Etin….”

”pakde Kasdi….”

”Mas Arif…..”

”Mbak Ika….”

”Om Didit….”

”Mas Arif…..”

[istighfar…]

”Mbak ririn……”

”Eyang Uti…..”

”Mbak Ika….”

[istighfar…]

”pakde Kasdi….”

”Eyang Iyut….”

”Mbak ririn……”

[istighfar…]

”Mbak ririn……”

”Mbak ririn……”

”Mbak ririn……”

[istighfar…]

”Mbak ririn……”

”Ibu……”

”Bapak…..”

[istighfar…]

”Bapak…..”

”Ibu……”

”Ibu……”

”Mbak ririn……”

”Ibu……”

[istighfar…]

”Bapak…..”

”Mbak ririn……”

”Eyang Uti…..”
[istighfar…]

Kita sudah benar-benar kelelep……..

wajah ibu……

wajah bapak……

[istighfar…]

…………………………………..

………………………………………

……………………………………………

[ini adalah mimpiku]

[mimpi yang akan selalu kuingat]

[karena aku menatap akhirku sendiri…]

[karena saat itu aku bener-bener dapat melihat jelas wajah ibu dan wajah bapak saat tsunami sudah melahap kami dalam 10 detik]

[ibu kebingungan]

[bapak tersenyum]

[ibu tersenyum kemudian]

[bapak pasrah]

[kedua orang tuaku pasrah]

[tolong,,,,,,aku hanya manusia kecil]

[tolong,,,,,,biarkan mimpiku tadi hanya sebatas mimpi]

[karena aku sudah cukup ketakutan sampai sekarang]

[istighfar…]

terinspirasi dari tulisan blog andin sebelumnya yaitu
aku menangis untuk adikku enam kali
tulisan blog sebelumnya adalah tentang seorang kakak yang bercerita tentang adiknya yang penuh pengorbanan…

berbeda dengan tulisan blog ini, ndin mengangkat tema seorang adik yang bercerita akan keteguhan seorang kakak

ya…dia adalah kakakku….

saat aku masih kecil dan masih belum tahu akan apa-apa
aku terenyuh menatap kakakku yang berusia belia sigap membantu bundaku untuk membuat kue yang akan dihidangkan di arisan. ia begitu tekun….ya…dia adalah kakakku….

saat itu aku masih sangat muda
dan aku menatap bunda menangis di kamar karena suatu hal yang terjadi dalam keluarga besar kami saat itu
aku terenyuh kembali saat kakakku yang masih duduk di TK nol kecil datang membawakan tissue untuk bunda
ia mengelap mata bunda dan diam sambil memeluknya erat. padahal ia masih sangat kecil sekali. dan aku hanya diam tidak mengerti apa yang harus kulakukan. ya…dia adalah kakakku….

saat aku menginjak TK dan kakakku naik kelas SD.
bunda selalu mengantarkan kami berdua untuk pergi sekolah naik sepeda motor.
SD kakakku bersebelahan dengan TK-ku saat itu. saat itu kami tinggal di suatu desa terpencil
Bunda memberhentikan motornya tepat di depan SD kakakku.
“Turun disini aja ya. Ibu mau ke rumah Bu ADM. Sini sun dulu” ucap bunda sambil mencium kedua pipi ku dan kakakku

Dan setelah itu, bunda pergi.
“Dik gimana? Berani ke TK sendiri?” tanya kakakku
Aku menggelengkan kepalaku
Saat itu memang TK dan SD kakakku bersebelahan, tapi di depan TK dan SD kami adalah sebuah taman tapi menyerupai hutan, karena pohonnya yang tinggi-tinggi dan semak belukar yang sudah setinggi manusia dewasa. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana kalau tiba-tiba saja ada ular berbisa atau hewan buas lain yang menerkamku.

“Ya udah, mbk anterin yah…”
dan aku kembali terenyuh melihat keberaniannya mengantarkanku sampai di depan TK. Ia menggandengku erat, berusaha melindungiku .padahal akupun tahu, kakakku sebenernya sama takutnya denganku. Dia sangat penakut akan ular. Tapi demi aku, dia tak mau menunjukkan ketakutannya itu.ya…dia adalah kakakku….

Saat aku naik SD kelas 4 dan kakakku SD kelas 6
bunda dan ayahanda kami pindah ke kota. Kami berdua dimasukkan ke sekolah yang sama, sekolah SD yang termasuk sebagai sekolah teladan.
tapi, ayah kami harus tetap bekerja di desa terpencil seperti dulu, sedangkan bunda kadang-kadang bolak balik ke desa-kota untuk menemani ayah atau menemani kami berdua.
Kalau bunda pergi ke desa, kami berdua tinggal sendiri dalam rumah. Bunda sebelumnya telah memasakkan makanan untuk kami, jadi kami hanya tinggal membuat nasi dan memanaskan kembali masakan bunda tersebut.

Saat itu, aku terenyuh menatap kakakku. Ia selalu diberi nasehat oleh bunda untuk selalu menjaga aku selama bunda tidak di rumah.
Kakakku selalu memanaskan masakan bunda dan membuat nasi tiap pagi. ia mengerjakannya tiap hari tanpa mengeluh. Kadang-kadang aku membantunya, tapi ia lebih sering mengerjakannya sendiri.
Aku terenyuh melihat kedewasaannya itu. dan ia pun tetap sabar menjagaku meskipun kenakalanku membuat dia harus menahan emosi.ya…dia adalah kakakku….

Menghadapi kelas baru kadang membuat kita tidak nyaman. Kadang ada beberapa teman yang meremehkan kami berdua hanya karena kami berdua berasal dari desa terpencil. Padahal sebenernya nilai raport kami selalu bagus.

Saat itu, kakakku cerita dengan bunda tentang situasi kelasnya.
“bu…mbk masak dibilangin wali kelas mbk kalo mbk dari desa. Wali kelas mbk waktu tu bilang di depan kelas ke semua murid-muridnya. Anak-anak, jangan lupa belajar, masak kalah dengan orang desa, gitu bu…sambil menengok ke mbk.” kakakku curhat ke bunda dengan nada bicara yang polos.
“Ya uda gapapa. Asalkan mbk harus tetap rajin belajar. Jangan didengerin ya kata bu gurunya”
“Iya bu, mbk gak papa, lha wong nilai mbk juga gak kalah dengan temen-temen mbk yang di kota kok, ya kan bu?!” jawab kakakku bersemangat.
Aku terenyuh mendengarkan percakapan bunda dan kakakku. ya…dia adalah kakakku….semangatnya terus mengobar….

Lama kemudian, kakakku menghadapi ujian nasional untuk masuk ke SMP [SLTP]. Ia begitu tekun belajar, dan memang ketekunannya berbuah hasil yang menyenangkan. Ia diterima di SLTP yang favorit.
saat mendaftar ulang di SLTP favorit tersebut, kakakku berbisik padaku
“Tu kan dik…SLTP nya bagus yah…ini tempatnya anak-anak rajin loh.Nah, dik besok SLTP nya juga disini yah. Mbk tungggu loh. Dik pasti bisa klo belajar tekun”
Aku terenyuh mendengar bisiknya. Semangatku menggelora saat itu.
Ya Mbk…aku akan belajar giat biar masuk SLTP favorit ini seperti mbk….ya…dia adalah kakakku….

Waktu terus berjalan. dan tiba saatnya aku untuk masuk SLTP. Aku senang sekali karena alhamdulillah aku diterima di SLTP favorit seperti kakakku. Semua seperti mimpi belaka…
mengingat sebelumnya beberapa teman-temanku dan teman-teman kakakku meremehkan kami berdua yang berasal dari desa. Tapi ternyata, dengan kerja keras kami dan dengan ridhoNYA, kami berhasil mendapat nilai yang bagus. Bahkan temen-temen kami yang meremehkan kami sebelumnya tidak diterima di SLTP yang favorit. Alhamdulillah…matur nuwun ya ALLAH atas bantuanNYA dan Makasih mbk atas semangatnya

kami berdua satu sekolah SLTP. dan kami berdua sama-sama bertekad untuk menjadi terbaik. Alhamdulillah kami berdua duduk di kelas unggulan…Kami berdua saling mengingatkan dan saling memotivasi untuk berjuang mati-matian, mengingat keadaan orang tua kami yang tidak memungkinkan.
“Setidaknya, kita harus beri mereka senyuman atas usaha kita yang berhasil, dik! Jangan buat kedua orang tua kita terus menerus sedih. Kita tidak boleh menambah kesedihan mereka lagi. Ya dik ya? Belajar yang tekun….” nasehat kakakku saat itu. Kakakku adalah orang yang mengerti keadaan keluarga. Kadang aku diajak ke kamarnya untuk mendengarkan cerita kakakku tentang keadaan orang tuaku saat itu.ya…dia adalah kakakku….

saat aku kelas 1 SMP, dan hari itu adalah hari ulang tahunku. sebelumnya aku tidak mengira akan terjadi apa-apa hari itu.sesampainya di kelas….

“SElamat ulang tahun, dik…” kakakku memelukku erat.aku kaget, kenapa kakakku bisa ada di kelasku.
“Mbk kesini sebagai surprise loh…ayo temen-temen…mari nyanyikan…” suruh kakakku ke teman-temanku. Dan kemudian teman-temanku langsung menyanyikan lagu ulang tahun untukku…aku baru menyadarinya, kakakku benar-benar membuat surprise luar biasa, ia mengumpulkan semua teman-temanku untuk memberi kejutan ini…Aku kembali terenyuh mengenang hal itu…ya..dia adalah kakakku…

SLTP telah terlalui bersama. Kini giliran kakakku bekerja mati-matian untuk masuk ke SMA yang favorit. Dan semuanya berjalan lancar. wajah kedua orang tuaku kembali mengembang tersenyum saat tahu bahwa kakakku masuk ke SMA favorit.

Begitu seterusnya…kakakku selalu mengajakku ke SMA nya. Ia memotivasiku lagi untuk bisa masuk ke SMA itu..dan akupun semakin menggiatkan diri agar bisa satu sekolahan lagi dengan kakakku.Semuanya berjalan seperti itu, bahkan ketika aku menghadapi SPMB [Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru].
ia sudah kuliah di lain kota di universitas yang baik. dan saat liburan, ia pulang ke rumah untuk mengajariku belajar menghadapai SPMB…Ia selalu memotivasiku…sedikit-sedikit, ia berucap “Dik, satu universitas ama mbk yah…Bagus loh dik!” Dan, kadang akupun diajak untuk melihat universitasnya…Sungguh luar biasa…Sejak saat itu, aku mau satu kampus dengan kakakku…!

Lama kemudian, alhamdulillah pula, aku diterima di universitas yang sama dengan kakakku…senangnya….

Sampai saat ini pun, menjelang wisuda kakakku, ia tetap berpesan padaku [pesannya ini ia tuliskan dalam Kata Pengantar dalam TUgas Akhir (TA) Sarjananya]
My sister, andin ndin_ndun. Terima kasih ya dik…terima kasih untuk segala bantuannya dalam mengerjakan data-data TA. Terima kasih juga untuk segala support baik dalam hal TA maupun dalam hal pekerjaan, semangat ya sis…kita pasti bisa meraih cita-cita yang kita inginkan…dan ALLAH SWT pasti mengabulkan cita-cita yang baik dari setiap umatnya, ok??

Terenyuh aku menatap tulisan itu. kakakku dulu yang dari kecil sudah setegar itu, kini makin memantapkan hidupnya untuk berjuang di luar sana….
Selamat kakak…
satu perjuangan sudah kau lampaui,,,,
adikmu ini berharap perjuangan lain dapat kau lalui dengan ridho dari NYA dan berjalan lancar…amien…

saat wisuda kakakku….210707
persaudaraan bukan kata biasa…
ia adalah mustika bagi jiwa kawula…
ketika itu hilang, kau akan hilang dalam sekejap
tapi ketika kau mampu merawatnya, kau akan temui gemerlapnya ketika gelap dunia…

sayangilah saudaramu,
karena saudaramu adalah jiwa keduamu….

 

 

ndin mendapatkan cerita sedih ini dari seorang teman

makasih ya….bner2 terharu bacanya

 

Aku menangis untuk adikku 6 kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun

mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! “

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,

“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas

bantalku:

“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) .

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? “

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat

luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sering kali, suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.

Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?

Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan

saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:

“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,

“Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan dari keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”

 

ia berjalan tersendat
sudah lama ia menahan keinginannya untuk berhenti sejenak…
ia atur napasnya
sedikit demi sedikit ia menatap ke depan
disana pasti!
ayun langkahnya semakin yakin
disana pasti!
pasti!

ia sudah berpuluh meter
dengan berratus gram
peluhnya kembali ngucur
dengan wajahnya yang kekar
yang keras ingin berada di depan sana

ia tarik semuanya
tetap ia ayunkan
walau setiap pandangan hanya menatap risih saja
ia tahu…
semuanya kotor
dan semuanya hanya ingin menjauh darinya

di depan kulihat ia
entah antara kesabaran atau kesadaran
ia menatap ke depan lagi
melihat sekelilingnya
ya…ia berada di depan megahnya Salman
di depan kampus yang selau memicingkan mata padanya
jijik mungkin batinnya
ia harus secepat ke depan
karena di sini ia tak diharapkan
baunya sudah menyengat
bebannya semakin berat

ia berhenti sebentar…
mengelap peluh
sambil menjongkokkan diri
“Ya ALLAH…”
capai mungkin batinnya
lelah
ia mungkin sudah mengemban amanat itu berpuluh-puluh tahun
tapi ia tak peduli
kata nyai di rumah asal halal, mungkin

kali ini aku melihatnya lagi
ia menarik napas dalam
sangat dalam
menatap ke depan dengan yakin dan tangguh
sambil tersenyum sedikit [subhanallah…]
dan ia tarik semuanya…
melangkah menjauhi orang-orang dari sampah hasil mereka sendiri….

[salut untuk bapak-bapak pembawa sampah yang ndin lihat sore itu…]
[semoga mendapat ridha dan pahala dariNya…, amin…]

tanpa sadar, mereka adalah bintang bagi hidup kita
tapi kenapa? kita sering memarahinya?
mengumpatnya?
bahkan menatapnya dengan tatapan yang risih?
hanya karena mereka membawa sampah yang bau sekali…
apakah kita harus bersikap seperti itu….?

terima kasih, Pak…

bumi uda mulai tua
sudah sangat tua

isu sudah beredar
dan bulu kuduk tegang untuk setiap detiknya

dajjal,,,suatu tanda tutupnya usia bumi
dan waktu terus menandakan semua yang diberitakanNYA

siapkah untuk terkubur?
terkubur dalam dosa dan pahala

insyaALLAH siap,,,,
sampai menutup mata akhirnya