ia berjalan tersendat
sudah lama ia menahan keinginannya untuk berhenti sejenak…
ia atur napasnya
sedikit demi sedikit ia menatap ke depan
disana pasti!
ayun langkahnya semakin yakin
disana pasti!
pasti!

ia sudah berpuluh meter
dengan berratus gram
peluhnya kembali ngucur
dengan wajahnya yang kekar
yang keras ingin berada di depan sana

ia tarik semuanya
tetap ia ayunkan
walau setiap pandangan hanya menatap risih saja
ia tahu…
semuanya kotor
dan semuanya hanya ingin menjauh darinya

di depan kulihat ia
entah antara kesabaran atau kesadaran
ia menatap ke depan lagi
melihat sekelilingnya
ya…ia berada di depan megahnya Salman
di depan kampus yang selau memicingkan mata padanya
jijik mungkin batinnya
ia harus secepat ke depan
karena di sini ia tak diharapkan
baunya sudah menyengat
bebannya semakin berat

ia berhenti sebentar…
mengelap peluh
sambil menjongkokkan diri
“Ya ALLAH…”
capai mungkin batinnya
lelah
ia mungkin sudah mengemban amanat itu berpuluh-puluh tahun
tapi ia tak peduli
kata nyai di rumah asal halal, mungkin

kali ini aku melihatnya lagi
ia menarik napas dalam
sangat dalam
menatap ke depan dengan yakin dan tangguh
sambil tersenyum sedikit [subhanallah…]
dan ia tarik semuanya…
melangkah menjauhi orang-orang dari sampah hasil mereka sendiri….

[salut untuk bapak-bapak pembawa sampah yang ndin lihat sore itu…]
[semoga mendapat ridha dan pahala dariNya…, amin…]

tanpa sadar, mereka adalah bintang bagi hidup kita
tapi kenapa? kita sering memarahinya?
mengumpatnya?
bahkan menatapnya dengan tatapan yang risih?
hanya karena mereka membawa sampah yang bau sekali…
apakah kita harus bersikap seperti itu….?

terima kasih, Pak…